ANALISINDO : MEMPELAJARI MASALAH ENGINEERING LEBIH DALAM DAN DETAIL

Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Proses Water Treatment Untuk Mesin Hemodializer (Mesin Cuci Darah)



Selamat malam, masih dalam semangat menulis yang sama untuk Website tercinta kita Analisindo.com
Kalau dalam postingan sebelumnya kita sudah membahas tentang standar air yang digunakan untuk target air dialysate di mesin HD. Maka kali ini kita akan membahas tentang proses water treatmentnya sendiri.
Saya akan coba menerangkannya secara padat dan jelas, namun jikalau nanti ada hal yang kurang dimengerti silahkan untuk menghubungi saya langsung di email pribadi saya. Oke langsung saja kita mulai ya!

A. Pemilihan Air Sumber
Suster harus memilih air yang baik untuk pengobatan

Sebelum kita masuk ke masalah teknis peralatan yang digunakan. Sangat penting sekali kita untuk memilih air sumber yang akan kita pakai. Sebab, air sumber ini nantinya akan berpengaruh kepada bagaimana system water treatment yang harus kita install.

Dan biasanya ada dua pilihan air sumber yang dapat Rumah Sakit atau klinik ambil untuk keperluan ini. Saya akan jelaskan sedikit kekurangan dan kelebihannya :

1. Air Sumur
Air ini gratis dan menjadi favorit untuk banyak instansi kesehatan. Namun untuk proses HD, saya sangat tidak menyarankan menggunakannya. Sebab air sumur ini kebanyakan mengandung kapur dan magnesium dalam jumlah tinggi.

Kedua unsur ini akan menjadi racun ketika masuk kedalam ginjal dalam jumlah diatas 3 ppm saja. Maka dari itu, untuk mengolah air sumur menjadi air yang layak untuk dipakai HD kita sering memerlukan proses water treatment yang lebih panjang dan berat.

Dan jikalaupun kita memilih untuk menggunakan proses water treatment yang murah, maka siap siap kita akan menanggung operational cost yang tinggi sebab seringnya penggantian media dan penggantian membrane.

Lihat Juga : Standar Air Untuk Proses Hemodialisa

2. Air PDAM
Air jenis ini, walaupun anda harus membayar lebih. Namun tetap saya sarankan, sebab air jenis ini biasanya lebih stabil dan rendah dalam kandungan Ca dan Mg. Sehingga dalam proses pengolahannya lebih ringan dan tidak mengkonsumsi budget. Serta lebih aman bagi pasien Anda

B. Pretreatment
dalam membuat water treatment untuk hemodialisa

Pretreatment adalah sebuah proses persiapan bagi air, sebelum masuk ke proses treatment utama. Dalam hal ini kita akan memasang beberapa pretreatment yang akan sangat berguna memuluskan pekerjaan main treatment. Antara lain :

1. Water Softening
Proses ketiga adalah dengan menyerap zat kapur dan magnesium dari air. Proses ini biasanya dilakukan dengan menggunakan water softener.

Water softener bentuknya mirip dengan filter air carbon. Namun didalamnya diisi oleh zat Resin Cation dan diproses regenerasi dengan garam halus non iodium.

Lihat Juga : Supplier RO Berkualitas Untuk Mesin HD

2. Solid Removal
Proses pertama adalah dengan menyingkirkan padatan makro yang mungkin ada di air yang Anda jadikan sumber. Untuk prosesnya biasanya kita akan menggunakan sand filter dengan sand silica dengan ukuran 80 hingga 160 mesh.

Tujuan dari proses ini adalah jelas untuk mempermudah proses penyaringan pretreatment selanjutnya.

3. Macro Pollutant Removal
Untuk proses kedua ini, biasanya menggunakan carbon filter dengan nilai Iodine yang tinggi. Banyak kotoran yang dapat ditangkap oleh karbon yang memiliki nilai Iodine yang tinggi. Dari mulai rasa, bau, warna, ammonia, chlorine dan bahkan zat besi.

Untuk kasus air yang sangat buruk (Air Gambut), biasanya digunakan lebih dari satu filter. Dalam hal ini kita bisa jadi harus menginstal Ferolite dan Manganesse filter juga.



C. Main Treatment
bagaimana cara mengolah air untuk cuci darah

Untuk pengolahan utama dalam proses pengolahan air untuk hemodialisa sangat disarankan menggunakan Proses Reverse Osmosis.

Sebab RO memberikan air dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi ditambah lagi dengan proses eleminasi bakteri dan virus.

Yang harus menjadi perhatian utama dari main treatment ini adalah, harusnya ada panel yang memberikan display untuk dua parameter utama untuk pegangan Anda. Parameter tersebut adalah pH dan Conductivity.

Pastikan pH berada pada posisi 6-8. Sedangkan conductivity pastikan berada dibawah nilai 5. Jika kedua parameter ini tidak dikunci pada system Anda, maka sama artinya Anda sedang meracuni pasien dengan kontaminasi pada air mereka.

Lihat Juga : Penggunaan Screen Filter untuk Pretreatment WTP

D. Post Treatment
gunakan Lampu UV untuk proses hemodialisa water treatment

Selain main treatment dengan Proses RO tadi. Kita juga harus menjaga air yang sudah dihasilkan dengan proses post treatment. Post treatment ini sangat penting untuk memastikan tidak ada mahluk berukuran mikro yang mencemari air yang sudah dengan susah payah kita proses.

Bakteri, virus dan lumut adalah tiga pencemar yang dapat mengkontaminasi air Anda. Jadi pastikan proses post treatment Anda juga dilengkapi dengan peralatan tempur untuk mengenyahkan mereka.
Proses Ultra Filtrasi, Lampu Ultra Violet dan Proses Sirkulasi dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menjaga stabilitas dan nilai steril dari air yang Anda Hasilkan dari proses pengolahan.

Nah sobat, itu dia penjelasan singkat dari Saya Mr. Anggi (Pakar Water Treatment) tentang system water treatment untuk air hemodializer. Saya harap sobat menjadi memiliki pandangan untuk hal ini sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia nyata.



Salam Hangat

Mr. Anggi Nurbana
“Pakar Water Treatment Indonesia”



Category: articles

Standard Air Untuk Hemodialisa


Selamat malam sobat Analisindo.com diseluruh Indonesia. Saya berharap sobat semua melihat artikel ini bukan karena sobat membutuhkan perawatan dengan Hemodialisa namun karena sobat sedang berupaya belajar ya :)

Kali ini kita akan membahas tentang Standar Air Yang digunakan dalam proses Hemodialisa atau lebih senang disingkat HD. Saya akan membahasnya dikarenakan saat ini sedang menangani proyek dibeberapa rumah sakit untuk instalasi water treatment untuk hemodialisa. Dan proyek ini cukup lucu menurut saya, sebab ternyata cukup banyak kontraktor yang menawarkan installasi water treatment mereka ini ternyata tidak mengerti tentang standar air yang menjadi target pengolahan water treatment. Weleh-weleh

Penting Sekali Paham Standar Air untuk HD

Sobat pasti paham, bahwa seseorang yang tengah diterapi cuci darah tentu adalah orang yang sedang mengalami masalah dengan organ ginjal mereka. Dimana ginjal mereka sudah tidak dapat berfungsi secara normal sehingga tidak dapat lagi menyaring racun ataupun kotoran yang terdapat pada makanan mereka.

Dalam hal ini, proses pencucian darah dimaksudkan untuk menyaring ataupun mengeluarkan kotoran yang menyangkut diginjal yang sedang rusak tersebut. Hal ini sama artinya dengan, kita harus memastikan bahwa air yang digunakan dalam proses cuci darah ini benar-benar steril dan bebas dari pengotor apapun. Sebab jika ada pengotor sedikut saja, maka artinya proses cuci darah ini sendiri merupakan proses bunuh diri perlahan bukannya proses penyembuhan (Saya Serius)

Maka dari itu, baik bagi para praktisi kontraktor pembuat installasi water treatment untuk hemodialisa ataupun untuk para pengguna/pemilik mesin HD ini sangat penting untuk mengetahui standar yang seharusnya digunakan dalam proses water treatment untuk HD ini. Jika tidak, maka artinya Anda memiliki Andil mencelakakan pasien (Serius Lagi )

Lihat Juga : 


Sejarah Air Digunakan Standar Air Pada Proses HD
Semuanya bermula ketika negara api menyerang awal tahun 1960, ketika proses pencucian darah itu sendiri diperkenalkan di Barat.

Ketika itu, awalnya digunakan beragam macam air tanpa treatment sama sekali kecuali desinfeksi. Air sumur, air PDAM bahkan air sungaipun digunakan. Namun setelah praktek HD selama beberapa tahun akhirnya ditemukanlah bahwa beberapa zat yang ada dalam air ternyata dapat mengganggu proses HD bahkan mencelakakan pasien. 

Maka dari itu, ketika di pertengahan dekade 1970 mulailah para ahli berkumpul untuk membahas standar untuk Air yang digunakan pada proses hemodialisa ini.

Para ahli yang bernaung dalam organisasi AAMI (Advancement of Medical Instrumentation), pada awalnya menyepakati bahwa air yang digunakan untuk proses Hemodialisa ini setidaknya harus sesuai dengan standar US Pharmacophea.

Dalam standar pertama tersebut disebutkan bahwa air yang digunakan untuk hemodialisa maximum memiliki 0,01 ppm logam berat. Dan dengan 1 Mega Ohm Resistivity.

Lalu setelah sekitar 10 tahun kemudian standar tersebut disempurkan oleh seorang ilmuwan kesehatan asal berdarah India bernama Keshaviah dengan menambahkan batas tertinggi cemaran mikrobiologi yang diterima.

Standar Mana Yang Digunakan di Indonesia?
Sejak kehadiran standar pertama yang dipelopori oleh AAMI. Mulailah bermunculan banyak standar lainnya dari asosiasi lainnya. Masing-masing asosiasi memiliki batasan yang berbeda mengenai air yang harus digunakan. Hal tersebut dikarenakan para ahli yang memiliki pengalaman yang berbeda dengan air yang digunakan dan efek dari para pasien mereka.

Setidaknya ada 4 standard yang diakui untuk air HD ini. ; AAMI Standar, Canadian Standard Association, United States Pharmacopoeia, dan Europian Pharmacopoeia.

Dan dari keempat standard tadi Indonesia mengadopsi standar yang pertama yakni dari AAMI.

Berikut adalah standarnya :



Nah Sudah terbaca semua kan tentang pertanyaan standar air untuk hemodialisa. Saya harap postingan saya kali ini dapat bermanfaat banyak untuk teman-teman semua wa bil khusus para praktisi kesehatan di rumah sakit. Agar tidak salah pilih kontraktor untuk mengerjakan proses water treatment untuk hemodialisisnya :)

Salam Hangat,


"Pakar Water Treatment Indonesia"
Category: articles

7 Faktor Pemilihan Instrumen


Assalammu’alaikum sobat semua. Alhamdulillah wa Syukurillah kita bisa berjumpa kembali dalam ANALISINDO.COM

Dan hari ini sesuai dengan subject, kita akan membahas tentang apa saja sih faktor yang harus kita perhitungkan ketika kita menentukan untuk memilih instrumen tertentu. Mengingat dalam dunia water treatment sendiri, keberadaan instrumen itu sangat penting sekali bagi proses mendesain maupun memperbaiki suatu sistem water dan waste water treatment.

Baiklah, daripada berlama-lama dipembukaan mari kita langsung saja membahas faktornya satu persatu.

1. Tempat Pengukuran Instrumen
Hal pertama yang harus Anda pertimbangkan dalam memilih sebuah instrumen alat ukur tentunya adalah mengenai tempat dimana si instrumen tadi akan ditaruh.

Untuk instrumen yang hanya bisa diletekan di area laboratorium biasanya akan terbuat dari material yang lebih ringkih namun dari hasil pembacaan akan lebih akurat. Sedangkan untuk instrumen yang diletakan di lapangan atau on site, biasanya akan diberikan vessel (wadah) ataupun sensor yang memiliki kekuatan material lebih tinggi hal ini disebabkan karena kondisi on site yang lebih keras dari pada indoor.

Bisakah kita menggunakan instrumen lab untuk pengukuran On Site?
Jawabannya tentu saja bisa, tapi hanya untuk pengukuran temporer. Sebab instrumen lab cenderung lebih ringkih, sehingga jikalau bertemu dengan kondisi on site yang lebih keras maka dikhawatirkan si instrumen tadi menjadi rusak dan tidak lagi akurat.

Biasanya para engineer atau analis membawa instrumen lab ini ke site untuk proses pembandingan pembacaan ataupun verifikasi hasil kalibrasi instrumen on site.

2. Suhu dan Turbulensi

Hal kedua yang harus kita pertimbangkan ketika memilih suatu instrumen adalah mengenai suasana suhu dan turbulensi area pengukuran.

Hal ini penting untuk diinformasikan kepada para sales engineer ataupun bagian purchasing. Sebab, kurangnya informasi mengenai kedua faktor ini bisa jadi sangat berpengaruh kepada akurasi pembacaan dilapangan.

Sebagai contoh untuk proses pembacaan nilai kekentalan pada mixer pembuat shampoo tentu akan berbeda pada nilai susu. Dimana shampoo di mix dalam kondisi low speed sehingga menjadi cream, sedangkan susu dipertahankan nilai liquidnya.

Beberapa sensor juga memiliki nilai toleransi terhadap suhu-suhu tertentu. Ada sensor yang mampu membaca diatas nilai didih air murni, dan ada juga sensor yang hanya bisa membaca pada nilai max 60 derajat celcius.

Kedua faktor ini nantinya juga akan berpengaruh pada material dan jenis si instrumen itu sendiri.

3. Range dan Akurasi Pembacaan

Setiap instrumen seperti pH meter dan TDS meter, memiliki range pembacaan yang berbeda-beda. Misalnya saja, untuk TDS meter yang digunakan untuk air laut dan air permeate RO tentu akan memiliki range pembacaan yang berbeda. Dimana Range pembacaan untuk air laut hingga puluhan ribu sedangkan range untuk permeat max bernilai ratusan (Untuk ultra pure water bisa kurang dari 100).

Untuk akurasi pembacaan juga tentu berbeda. Kaidahnya adalah, semakin tinggi range pembacaan maka akan semakin rendah akurasi pembacaan nilainya. Hal ini berlaku untuk semua jenis alat ukur.

4. Sistem Pelaporan

Untuk sistem pelaporan, ada tiga jenis sistem pelaporan yang biasa dikenal dalam alat instrumen.

a. Manual report
Jenis pertama ini sangat banyak sekali digunakan, baik pada pengukuran on site maupun di Laboratorium.

Instrumen dengan manual report akan memberikan nilai pembacaan saja, tanpa adanya sistem recording pada instrumen tersebut. Seluruh laporan pembacaan akan tergantung dari operator yang membaca alat tersebut.

Instrumen dengan manual report, digunakan pada sistem yang tidak kritis. Maksudnya adalah sistem tersebut tidak akan goyah jika terjadi sedikit perbedaan pembacaan selama masih dalam range baca tersebut.

b. Periodicaly report
Sesuai namanya, sistem pelaporan periodical adalah instrumen yang akan memberikan suatu output tertentu. Output tersebut  bisa dalam bentuk chart, grafik ataupun angka langsung. Nilai dari angka tersebut biasanya merupakan nilai rata-rata dari pembacaan selama beberapa waktu. Ada yang memberikan average value selama 8 jam, 4 jam, 2 jam, dan lainnya. Semua tergantung dari setting yang telah dilakukan.

Periodically report ini biasa dipilih untuk sistem pelaporan otomatis dan pemantauan pada site di area remote atau mungkin tanpa operator yang stand by selama 24 jam.

c. Online Report
Yang ketiga dan yang termahal (Ups..) adalah sistem online report. Sistem ini memungkinkan si instrumen untuk memberikan hasil pembacan secara realtime, sekaligus terecord dalam suatu media tertentu. Media tersebut bisa berupa kertas ataupun data.

Data dari instrumen dapat dikumpulkan dalam suatu drive atau diambil langsung ke monitor pembacaan.

Instrumen jenis ini biasanya digunakan untuk pengukuran yang riskan akan perubahan, walaupun perubahan tersebut kecil sekali. Kita dapat menemukannya pada industri migas.

5. Otomasi Triger Sistem

Hal selanjutnya yang harus kita perhatikan pada suatu instrumen adalah, kemampuan instrumen tersebut untuk mentriger suatu nilai untuk mengaktifkan ataupun mematikan peralatan tertentu, istilah yang biasa dipakai adalah triger.

Kemampuan ini sangat penting dimiliki instrumen yang dipasang secara on site. Seperti instrumen yang berada di area wwtp ataupun area produksi. Dimana biasanya ketika pH berjalan keluar dari jalur netral. Maka instrumen akan memberikan triger pada dosing pump untuk mengaktifkan aliran kimia baik asam ataupun basa, agar pH kembali dalam koridor normal/netral.

6. Kemudahan Maintenance dan Perbaikan/Penggantian

Sangat penting untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan adalah instrumen yang mudah dirawat serta diperbaiki atau diganti spare partnya. Sebab instrumen adalah salah satu alat vital yang memberikan hasil pembacaan dan bahkan menentukan keberhasilan suatu sistem.

Maka dari itu, kita juga perlu memperhatikan hal ini. Untuk instrumen yang dalam pemesanan atau pengadaan barangnya perlu waktu yang lama. Maka tentu kita harus mempersiapkan spare atau cadangannya. Namun untuk instrumen yang mudah ditemukan spare partnya, maka kita bisa lebih tenang (Bukan artinya sembrono yah).

7. Harga Instrumen tersebut

Nah ini dia faktor terakhir yang memang seharusnya diposisikan dalam posisi akhir. Sejatinya harga akan terkait dengan anggaran perusahaan.

Sedikit saran dari saya adalah ketika budget perusahaan Anda mepet atau cenderung ke kecil. Maka yang sebaiknya dilakukan adalah menekankan pada faktor range dan akurasi pembacaan, dibandingkan dengan faktor lainnya. Sebab faktor lainnya dapat digantikan dengan modifikasi atau kerja tambahan dari operator. Sedangkan Range dan akurasi tidak dapat digantikan dengan apapun.

Nah tidak terasa tulisan saya ini ternyata sudah mencapai 4 halaman di microsoft word. Dan saya rasa sudah cukup juga ya artikel tentang 7 faktor yang harus diperhatikan ketika memilih instrumen. Semoga tulisan ini dapat memberikan input yang positif bagi sobat pembaca sekalian.



Salam Hangat,

Mr. Anggi Nurbana




Category: articles

salah satu solusi untuk udara yang tercemar adalah adanya kebutuhan kebaikan

Udara yang bersih dan sehat adalah syarat dari terciptanya kehidupan yang sehat pula. Namun dewasa ini pertumbuhan pendudukan dan banyaknya aktifitas industri membuat udara disekitar kita, bukannya menjadi bertambah bagus tapi justru sebaliknya.

Definisi Pencemaran Udara

Jika mengikuti definisi dari peraturan pemerintah, khususnya Nomor 41 tahun 1999. Disebutkan bahwa pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukannya zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

Nah dari definisi diatas, tentu kita melihat bahwa yang dijadikan tersangaka utama dari pencemaran udara tidak lain dan tidak bukan ternyata adalah manusia. Kalau mendengar pernyataan tadi, saya jadi teringat dengan satu ayat yang artinya akan berbunyi sebagai berikut :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [ar-Rûm/30:41]

Beuh benar ya sobat analisindo, bahwa kebanyakan memang manusialah penyebab segala kerusakan, bukan hewan, bukan tumbuhan tapi manusia. Salah satu pencemaran atau kerusakan yang terjadi adalah pencemaran udara.

bagaimana cara mengetahui jenis pencemar


Tapi apakah benar begitu, bahwa hanya manusialah penyebab terjadinya kerusakan atau pencemaran udara?

Tentu jawabnya adalah tidak, karena selain dari manusia ada jenis pencemaran udara lainnya yang memang terjadi karena adanya siklus alam. Hal ini disebut sebagai pencemaran udara alami.

Pencemaran udara alami terjadi ketika terjadi suatu keadaan yang natural yang mengakibatkan adanya partikulat ataupun zat pengotor masuk ke udara. Beberapa contoh pencemaran udara alami adalah seperti terjadinya asap tebal akibat kebakaran hutan (Yang terbakar alami), terjadinya debu berterbangan akibat adanya gunung meletus dan lain sebagainya.

Lihat Juga : 5 Tips dalam Memilih Lokasi Sampling Udara

2 Jenis Pencemaran Udara Berdasarkan Sumber Utama


Untuk lebih memperjelas tulisan ini, sebenarnya secara mudah kita dapat menggolongkan pencemaran udara menjadi dua bagian, yakni :

1 Pencemaran Udara Alami


Pencemaran udara alami adalah masuknya zat-zat kimia ataupun fisik (Partikulat) kedalam sistem udara kita yang disebabkan adanya aktifitas atau bencana alam seperti gunung meletus, kebakaran hutan, badai pasir dan lain sebagainya.

Pencemaran udara alami ini biasanya hanya berlangsung secara temporer saja atau sementara, yakni ketika insiden terjadi.

2 Pencemaran Udara Non Alami

Pencemaran udara non alami ini dapat disebut sebagai pencemaran udara yang terjadi akibat adanya campur tangan manusia.

Sumber dari pencemaran udara non alami ini sendiri dapat kita temukan dari banyak hal, beberapa diantaranya adalah :

- Pembakaran Bahan bakar fossil seperti bau bara dan minyak bumi

- Pembuangan gas hasil pembakaran besi dan baja

- Pembuatan bahan kimia seperti asam sulfat dan asam klorida

- Penimbunan sampah

- Dan masih banyak lagi.


Lihat Juga : Daftar gas Berbahaya Part-2

Jenis Penemaran Udara Berdasarkan Klasifikasi WHO


Selain dari dua jenis pencemaran udara yang kita singgung tadi, ternyata badan kesehatan dunia juga telah menetapkan 4 tingkatan pencemaran udara yang semuanya diberikan tingkatan berdasarkan efeknya pada manusia :

1 Pencemaran Udara Tingkat Pertama


Yakni Jenis pencemaran yang terjadi namun tidak sampai menimbulkan kerugian bagi manusia. Pencemaran ini kemungkinan dicontohkan seperti pembakaran di rumah tangga yang menimbulkan asap masakan.

2 Pencemaran Udara Tingkat Kedua

Untuk tingkat kedua dari Jenis pencemaran udara menurut WHO adalah ketika pencemaran udara itu telah menimbulkan dampak negatif yang cukup ringan bagi manusia secara langsung. Salah satu contohnya adalah debu berterbangan akibat adanya aktifitas pembangunan.

Lihat Juga : 5 Faktor yang mempengaruhi Hasil Sampling Gas

3 Pencemaran Udara Tingkat Ketiga

Jenis Pencemaran Udara ketiga adalah ketika pencemaran dapat memberikan akibat yang fatal bagi manusia namun tidak sampai mengakibatkan kematian. Contohnya adalah pencemaran udara akibat rokok, yang walaupun berbahaya namun tidak memberikan efek kematian instan.

4 Pencemaran Udara Tingkat Keempat


Jenis pencemaran udara tingkat keempat menurut WHO adalah ketika adanya zat yang masuk ke udara dan mengakibatkan kematian atau sakit parah pada yang menghirupnya baik itu manusia, hewan atau pun tumbuhan.


kami bisa membantu Anda melakukan Analisa Udara

Jenis Pencemaran Udara Menurut Area Terpapar


Untuk Area terpaparnya sendiri setidaknya ada 3 jenis pencemaran udara yang dapat kita klasifikasikan.

1 Pencemaran Udara Local

Adalah suatu jenis pencemaran udara yang terjadi pada suatu area kecil tertentu saja. Biasanya hanya terjadi pada suatu tempat kecil seperti rumah ataupun workshop.

2 Pencemaran Udara Regional

Adalah suatu jenis pencemaran udara yang terjadi pada suatu daerah yang cukup luas dan merata. Salah satu contohnya adalah kebakaran hutan yang terjadi dipulau sumatra pada 2016 silam yang mengakibatkan kepulan asap yang menyesakan dada pada banyak daerah di Indonesia maupun Malaysia.

3 Pencemaran Udara Global

Adalah pencemaran udara yang diakibatkan oleh aktifitas secara global oleh manusia, baik aktifitasnya itu sendiri ataupun dampaknya. Salah satu pencemaran udara global yang tengah kita tangani bersama adalah kenaikan gas metana ke udara. Yang kesemuanya kebanyakan adalah melalui campur tangan manusia.

Lihat Juga : Jasa Sampling Udara dan Gas

Nah sobat, itu dia jenis-jenis pencemaran udara. Masih banyak hal yang ingin sekali saya bagikan dan diskusikan seputar lingkungan dan analisa di blog ini, tapi apa daya sudah waktunya bekerja.

So stay tune dan tongkrongin terus analisindo.com ya. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

https://plus.google.com/+AnggiNurbana


Salam Lingkungan



Mr. Anggi Nurbana

Category: articles